Cerita Mistis

Tewas Mengejar Cinta Sosok Imajinasinya

Sudah setahun, Wiwi menjalin hubungan dengan Fitra.

Namun, selama 360 hari itu melihat dan meraba wajah Fitra tak pernah.

Meski sedetik. Wiwi begitu mencintai Fitra. Awal mereka berkenalan melalui sebuah aplikasi chat musim dingin.

Bermula dari chat Fitra pukul 01.25 dini hari.

Wiwi meresponnya. Menjalin chat yang tak biasa. Fitra begitu perhatian, mengirimkan kado dan surat di tiap minggunya.

Wiwi mulai jatuh hati dan terpikat, akhirnya hubungan cinta itu ada.

Tiap malamnya, Fitra selalu menelpon Wiwi via seluler.

Mereka berbicara membahas tentang segala hal.

Namun, Wiwi khawatir sosok kekasihnya tersebut tak pernah ingin bertemu.

Ia mulai gelisah dan tak emosi, sejak kemarahannya karena tak dapat membendung perasaannya untuk bertemu.

Hati wanita mana yang tidak tenang, bila tidak pernah bertemu sosok yang dicintainya.

Fitra hilang kabar, Wiwi tak dapat lagi menghubungi bahkan seluruh kontak yang dimilikinya hilang seketika dan tak dapat dihubungi.

Wiwi berniat mencari. Ia ingat alamat yang diberikan Fitra kepadanya.

Meninggalkan pekerjaannya dan mengambil cuti hanya untuk mengejar kekasihnya tersebut.

Suatu ketika pada Jumat malam, Wiwi mendapat kabar bahwa pria bernama Fitra telah meninggal dari sebuah akun yang tak ia ketahui asalnya.

Wiwi tak yakin, gambar yang dikirim seorang pria berlumuran darah namun wajah yang tak jelas.

Sejak malam itu, hidup Wiwi berubah. Ia seperti dihantui rasa penasaran berlebih.

Hari demi hari ia lewati, dengan beribu pertanyaan.

Apakah hanya sekedar ilusi? Wiwi mencoba ke psikiater bahkan ke dukun.

Tak ada jawaban pasti. Ia akhirnya bertemu dengan seorang paranormal handal.

Tak sengaja pertemuan itu terjadi, melihat mata Wiwi yang kosong ia kemudian menepuk bahu Wiwi.

“Awan hitam sedang bersemayam dalam relungmu, jangan tunggu dia. Dia tak nyata,” kata paranormal tersebut.

Wiwi menatap bingung.

“Kamu bersama iblis, yang sesaat lagi menjemput ajalmu,” tegasnya lagi.

Wiwi semakin gelisah, ia kemudia meninggalkan p\aranormal tersebut.

Berjalan seperti hilang arah, Fitra telah mengganggu pikirannya setengah hati.

Wiwi yang malang, ia hidup sebatang kara namun mandiri.

Wiwi, pernah terluka. Dengan kepergian orang tuanya dan saat ini kembali terluka dengan kepergian sang kekasih.

Terbesit di kepalanya, untuk menyusul Fitra yang katanya telah pergi meninggalkan dunia.

Wiwi, membiarkan raganya melayang dari lantai 12 salah satu hotel kota.

Tewas menyusul kenangannya yang tak pernah terjamah.

Dalam keyakinannya ia akan segera bertemu sang kekasih.

Nyatanya tidak, pada saat pemakaman hadir seorang wanita.

Wanita tersebut dengan senyum sinis terlihat bahagia menghantarkan jasad Wiwi yang tak lagi bernyawa.

Ia adalah orang yang menghadirkan sosok Fitra dalam imajinasi Wiwi.

Ia tak menyukai Wiwi, namanya Laura.

Laura adalah anak angkat kedua orang tua Wiwi yang tak pernah menyukai anak kandung itu.

Laura lah yang selama ini mengirim hadiah dan menghubungi Wiwi merusak akal Wiwi menjadi tak sehat.

“Selamat jalan saudara ku sayang,” tutur Laura di samping pusara Wiwi.

“Hartamu akan berada dalam genggamanku, pergilah bersama ibu bapak mu,” tuturnya.

Comment here