Cerita Mistis

Jangan Buka Pintu Lagi, Itu Bukan Dia (Cerita Misteri)

hantu lelaki

Seperti malam-malam sebelumnya, Ria merasa khawatir dan gelisah.

Menantikan kekasih yang tak kunjung hadir.

Bukan seperti biasanya, Rio kekasihnya pulang tak begitu cepat.

Ria terus menunggu, hingga ia tak sadar jika tertidur lelap.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga subuh.

Rio belum juga datang, hingga jam lima subuh Ria kembali terbangun.

Telepon berdering, dari nomor yang tak diketahui asalnya.

Ria tak menyangka kabar tersebut adalah peristiw pelik yang harus ditelannya pahit-pahit.

“Rio kecelakaan, dan kehabisan darah. Ia meninggal,” seperti itu suara lelaki yang menelponnya.

Ria yang menunggu masih bingung, ini mungkin bukan nyata.

Lima menit kemudia setelah menutup telepon tersebut Ria tersadar sang kekasih telah pergi.

Ia bergegas menuju rumah sakit, tempat jasad Rio disimpan sementara.

Bergetar dengan penuh lelah.

.

Waktu berlalu, Ria masih saja terus mengenang dengan penuh rasa penyesalan.

Pada suatu malam, hujan deras. Ria begitu rindu.

Sambil memandangi foto yang terpajang, Ria hanya ingin mempikan Rio.

Kepergian Rio secara tiba-tiba itu belum bisa ia terima.

Namun, keinginannya untuk memimpikan nampaknya berhasil.

Ia akhirnya memimpikan Rio.

“Ria aku datang,” kata Rio dalam mimpi.

Ria terbangun kaget dan merasa bahagia meski hanya hadir dalam mimpi, namun ia merasa nyata.

.

Malam berikutnya, Ria tak bisa tidur tepat di malam ke 40 hari Rio meninggal.

ilustrasi kesedihan

Kata orang 40 hari tersebut itulah Rio akan benar-benar pergi ke alamnya.

Saat melamun akan kedatangan Rio, tiba-tiba…

Pintu terketuk dengan perlahan.

Ria kaget dan segera berjalan kearah pintu ruang tamu.

Membuka pintu, berharap itu Rio.

Tidak ada siapa-siapa diluar sana. Hingga akhirnya Ria coba membasuh wajahnya.

Ketika tertunduk, sosok Rio hadir didepannya. Memberi pamit dengan beberapa kata.

Menceritakan kejadian sebenarnya di malam kecelakaan itu.

Ria nampak ketakutan, melihat sosok Rio yang sudah tak berwujud manusia.

Rio berlumuran darah pad mata, kepala, hingga mulut.

Suaranya sudah aneh, Ria takut namun melawan itu semua karena kerinduannya.

“Aku terlambat malam itu, mengambil berkas yang ketinggalan. Aku pergi sekarang. Jika malam berikutnya ada yang mengetuk pintu jangan di buka itu pasti bukan aku,” katanya.

Ria menangis, berteriak dan marah penuh sesal.

Seketika menghilang, Rio telah pergi ke alamnya.

Akankan Ria membuka pintu setelah ketukan terakhir Rio? simak kisah selanjutnya di part 2.

Comment here