Travel

Gule Kuliner Khas Wakatobi, Traveler Jangan Lupa Mencoba

Gule

Carisemuaja.com – Senang sekali, saya Nailul Latifahh ikut berpartisipasi sekaligus menjadi murid di pembukaan perdana “Sekolah Komunitas” yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Pariwisata Wakatobi.

Disini, kami akan belajar banyak tentang kearifan lokal. Dipilihlah desa liya togo. Salah satu desa yang ada di pulau Wangi-wangi, kab. Wakatobi. Desanya lumayan jauh dari perkotaan, namun tidak memakan waktu berjam-jam.

Materi yang diberikan kepada kami adalah tentang kearifan lokal yang ada didesa liya togo ini. Salah satunya adalah keahlian para masyarakat lokal dalam mengolah cemilan tradisional Gule.

Bagi saya cemilan ini sudah tidak asing lagi. Karena, cemilan ini sering saya jumpai diacara-acara adat di wakatobi, seperti acara pernikahan, hajatan sunatan, bahkan acara kedukaan.

Bentuknya yang begitu unik membuat siapapun yang barupertama melihat cemilan ini pasti ingin mencobanya. Saya memang putri lokal asli wakatobi, tepatnya saya tinggal di pulau wangi-wangi. Salah satu gugusan pulau wakatobi. Namun, saya tidak terlalu begitu mengetahui.

Ternyata, cemilan yang begitu unik ini mempunya filosofi sendiri pada setiap bentuknya. Sebelum saya melanjutkan, kalian bisa melihat beberapa foto yang sempat saya ambil.

Cara Membuat Gule

                       Gambar ini merupakan adonan gule yng telah dibentuk.

Adonannya, berasal dari ubi kayu yang telah di parut dan didiamkan seminggu, lalu mengering. Hingga berbentuk menjadi “opi” (gak tau bahasa indonesianya apa).

Setelah itu ubi tersebut akan mengeras, namun dapat di lembutkan menjadi tepung. Adonan akan dicampur dengan sedikit terigu dan kemudian dicampurkan dengan sedikit air agar dapat mudah dibentuk seperti gambar disamping.

Nah, setelah itu, gule yang telah dibentuk dimasukan kedalam minyak yang telah dipanaskan.

Untuk menjaga citarasa gule, masyarakat tidak menggunakan kompor gas atau kompor pada umumnya. Karena, menurut keterangan salah satu ibu-ibu yang pandai membuat gule.

Memasak pakai tungku lebih terasa nikmat, walaupun bahan makanan sangat sederhana.

Dan jadilah Gule, cemilan khas masyarakat wakatobi. Gule memiliki berbagai bentuk unik. Silimpa, Supeda, Londe, Bae Muntu Puru. dll.  Selebihnya saya akan share dibawah, setelah saya menjelaskan tentang filosofi gule.

Sejarah

Pada jaman dahulu, Gule merupakan makanan yang wajib disajikan di kerajaan. Perlu kalian ketahui, liya togo merupakan daerah keraton liya (kerajaan buton dahulu juga ada di wakatobi).

Gule merupakan persembahan spesial yang diberikan oleh masyarakat lokal kepada para tamu kerajaan. Gule memiliki filosofi tersendiri dalam setiap bentuknya.

Bagi yang awam, akan menganggap ini hanya adalah ukiran seni biasa namun bukan hanya ukiran ata kreativitas masyarakat lokal disini. Jika, diperhatikan Gule memiliki bentuk berebeda-beda dan memiliki nama.

Bentuk tersebut seperti menyerupai seluruh bagian yang ada di tubuh manusia. Entah, bagaimana cara pengkajiannya, informasinya seperti itu.

Gule juga memiliki nilai mistis. Namun, yang perlu kamu ketahui adalah ini salah satu harta yang patut kita jaga kelestariannya agar tidak punah. Gule merupakan cemilan sehat, karena memiliki bahan dasr umbi-umbian.

Gambar Gule dan Namanya

Comment here