Cerita Mistis

Cerita Mistis di Pulau Hoga, Tempat Destinasi Terbaik di Wakatobi

hantu

Cerita Mistis di Pulau Hoga, Tempat Destinasi Terbaik di Wakatobi

Saya akan menceritakan sebuah kisah mistis saat berliburan ke pulau.

Ada baiknya, ketika membaca ini silahkan sambil mendengarkan musik klasik di barengi dengan teh panas jika cuaca sedang dingin-dinginnya.

Baiklah ayo kita mulai.

Agustu 2O18, saya tidak begitu mengingat tanggalnya namun yang pasti hari itu adalah moment terbaik.

Pertama karena untuk pertama kalinya, ibu saya mengijinkan saya keluar pulau.

Kedua, momen yang tepat akan ku pamerkan di akun instagram ku.

Pagi itu saya sudah mulai mengemas beberapa baju, makanan, dan perlengkapan eksis salah satunya kamera.

Baca juga: 10 Hantu Menyeramkan di Sulawesi Selatan

Tidak sabar lagi berpesta ala bule-bule di pantai.

Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk berkumpul di pelabuhan bajo.

Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, 5 menit nyampe.

Saya bertemu dengan rombongan turis yang juga punya tujuan sama, ke pulau Hoga.

Pulau dimana kedamaian dan keheningan akan kamu dapatkan.

Naik perahu hanya 5O ribu rupiah, tiba ditempat tujuan.

Hoga

Selama dua jam lebih, saya merasa diombang-ambing ombak.

Tidak seberapa, ketika melawan sakit hati karena di ombang ambing cinta.

Wow.. Hoga ternyata begitu menakjubkan. Rasanya seperti berada di private island.

Tadinya, kami berencana hanya satu malam ditempat ini.

Namun, sepertinya harus nambah satu malam lagi setelah melihat pesonanya.

Baik, kami akhirnya menuju lokasi peristirahatan.

Sebenarnya, belum tahu dimana akan tidur. Ekspektasi saya, kami akan tidur di sebuah vila mewah dengan harga murah.

Nyatanya, itu hanya imajinasi. Ada sebuah warung di ujung timur Hoga.

Warung ini, di tinggali seorang ibu. Namun, itu hanya tempat dia mencari nafkah, sesudah itu dia pulang ke pulau sebelah namanya Kaledupa karena keluarga dan rumahnya juga ada disana.

Warung ini membantu kami. Kami tak perlu jauh-jauh lagi ke tempat lain, setidaknya hanya untuk menyeduh Indomie itu sudah buat hati senang karena tak kelaparan.

Sekilas tentang Hoga. Pulau ini seperti private island. Warganya sedikit, jadi kalian bisa menikmati keindahan sepenuhnya dengan ketenangan.

Namun, banyak juga bule disini. Biasanya pada bulan tertentu ada kegiatan seperti studi banding gitu.

Ok, hari sudah petang dan sebentar lagi malam. Senjanya juga bagus banget. Gak sia-sia nahan mabok laut kesini.

Malam pun tiba, dan cerita itu dimulai.

Air disini sangat asin, untuk mendapatkan air bersih kami harus menyelinap masuk ke kamar seorang dokter yang sedang bertugas untuk bule.

Baca juga: Kisah Nyata Bertemu Nyi Roro Kidul

Air tawarnya dari vila mahal yang saya bayangkan. Namun, tak boleh boros karena persediaan juga terbatas.

Sehabis mandi di laut, saya kemudian bergegas mandi di kamar mandi vila.

Belum terjadi apa-apa, namun suara anjing menggonggong begitu jelas.

Pada jam 11 malam nanti, lampu baru akan dinyalakan. Jadi kebayangkan, gelapnya Hoga pada malam hari.

Kebetulan sang dokter meminta saya untuk membantunya, membereskan obat yang ada di apotik resort.

Tentu saya membantunya dengan penuh semangat sambil gelap-gelapan, namun dibantu cahaya handphone yang baterainya menunjukkan warna merah.

Sambil bersenandung saya membereskan obat-obat yang susah ku sebutkan namanya satu persatu.

Saya sendiri pada waktu itu, karena sang dokter harus bertugas mengawasi para bule yang sedang diving malam.

Tiba-tiba, tiang infus bergetar. Entah karena angin atau apa. Saya tetap percaya diri, dan kembali menyusun obat.

Kain horden berwarna putih seakan tertiup angin kencang, namun saya tidak merasakan angin kencang itu.

Akhirnya, saya berdiri. Mencoba meyakinkan diri, bahwa saya mulai mengantuk.

Di perjalanan menuju pinggiran pantai dimana keempat teman saya sedang rebahan ala bule mesum.

Saya berjalan kecil sambil bernyanyi, diarah belakang saya seperti kesemutan.

Tiba-tiba, sebuah kain seperti melewati kepala saya. Saya mulai ketakutan tersadar bahwa itu makhluk halus.

Akhirnya, saya berlari. Ditengah pelarian saya, seorang nenek tua tanpa badan bergantung didepan wajah saya.

Menyeramkan, dan saya akhirnya mencoba lepas dari nenek tersebut.

Hingga akhirnya saya pun tersadar jika saya hanya mimpi, karena mabuk bir bintang pemberian bule.

Hehehe

Comment here