Cerita Mistis

Asal Usul Mak Lampir, Awalnya Seorang Gadis Cantik

legenda mak lampir

Asal Usul Mak Lampir, Gadis Cantik Yang Cintanya Tak Direstui Hingga Jadi Sosok Menyeramkan

Kisah sosok mak lampir sendiri sepertinya tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sejak adanya tv di Indonesia, mak lampir sudah digambarkan dalam karakter-karakter sinetron hingga film.

Namun, tak banyak yang tahu asal usul sebenarnya sosok wanita menyeramkan ini. Konon katanya, legenda mak lampir berasal dari gunung Sumatera. Namun, adaptasinya di tanah Jawa tepatnya dikaitkan dengan gunung merapi.

Mak lampir memiliki kaitan erat dengan 7 manusia harimau. Dikisahkan ada seorang putri cantik jelita berasal dari kerajaan Champa, dan ia jatuh cinta pada seorang pimpinan dari pasukan harimau, yaitu Datuk Panglima Kumbang.

Tapi sayangnya hubungan mereka tidak di restui oleh orang tua si Datuk, sehingga putri ini pergi ke hutan dan berguru kepada seorang petapa. Dan dari situlah sang putri memiliki kekuatan yang sakti dan dapat berubah wujud dari gadis cantik menjadi wanita tua berambut putih.

Hingga pada suatu hari sang Datuk dan sang Putri di pertemukan, namun naas pada sebuah pertempuran sang Datuk meninggal dan membuat sang putri sedih. Hingga akhirnya sang putri menggunakan kekuatannya untuk menghidupkan lagi sang Datuk.

Namun ia lupa akan konsekuensi kekuatan yang ia gunakan maka ia akan berubah menjadi sosok tua keriput dan beramput putih yang selama ini kita kenal Mak Lampir. Sang Datuk tersadar dalam kematiannya melihat sosok tua itu sang Datuk malah tidak mengenali sang putri dan menuduh ia sebagai setan peneror warga yang biasa di sebut Mak Lampir.

Sang putri merasa sakit hati dan pada saat itulah, perang gaib antara warga dengan Mak Lampir terus terjadi. Seperti itu lah penggalan cerita yang merupakan salah satu versi dari legenda Mak Lampir yang cukup terkenal. Sebuah elegi cinta yang melibatkan pertarungan ghaib itu begitu rumit, jika kalian memiliki cinta jangan terlalu buta. Hingga mengorbankan diri sendiri namun akhirnya tak dianggap.

Cerita pilu ini tentu dapat menjadi pembelajaran berharga untuk kita semua.

Comment here